GTK, Jakarta – Program Sekolah Penggerak akan mengakselerasi sekolah negeri/swasta di seluruh tahap untuk bergerak 1-2 tahap lebih maju dalam waktu 3 tahun ajaran.

“Sekolah Penggerak ini tujuannya mengakselerasi. Sekolah maju dari satu tahap ke tahap berikutnya. Di sini kita mengidentifikasi ada 4 tahap,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim saat peluncuran Merdeka Belajar Episode 7: Program Sekolah Penggerak, Senin (1/2/2021).

Mendikbud untuk kemudian menjelaskan secara runut dari tahap 1 sampai dengan tahap 4.

“Tahap 1, dimana tingkat literasi dan numerasinya sangat di bawah rata-rata dan lingkungan belajar yang cukup tidak baik, seperti banyak terjadi perundungan, intoleransi, dan mungkin mengalami penggangguan dalam kelas, karena anak-anaknya tidak engaged dalam kelas,” ujar Nadiem.

“Di tahap 2 sudah sedikit lebih baik, walaupun sedikit di bawah level yang diharapkan dari rata-rata, tetapi perundungan misalnya tidak menjadi norma, tapi pada saat ini guru-guru belum memperhatikan kebutuhan dan masing-masing personalisasi dari pembelajaran,” tambah Mendikbud.

Tahap 3 merupakan level yang diharapkan. “Dimana tidak terjadi perundungan, guru-guru sudah melakukan segmentasi dalam kelasnya, dimana anak-anak yang lebih butuh bantuan, anak-anak yang mungkin ketinggalan, anak-anak yang mungkin harus dikasih sesuatu yang lebih menantang,” tutur Mas Menteri.

“Dan perencanaan sudah mulai terjadi, anggaran itu nyambung dengan pembelajaran, dan sudah melakukan refleksi. Tapi baru awal, bukan proses refleksi, kolaborasi, dan peer mentoring di dalam kelasnya,” lanjutnya tentang tahap 3.

Untuk sekolah yang berada di tahap 4, berpusat pada murid menjadi filosofi yang telah dijalankan.

“Yang keempat ini adalah yang ideal, ini yang kita inginkan. Dimana literasi dan numerasi sekolah sudah di atas rata-rata,” ucap Mendikbud.

“Sekolah ini menyenangkan bagi siswa, karena siswa dalam setiap kelasnya mengalami perasaan bahwa dia didengarkan dan perasaan bahwa dia berpartisipasi dalam pendidikan dia. Jadi bukan hanya diberikan informasi, tapi dia juga menjadi kontributor dari pembelajaran dia. Dia punya suatu kemerdekaan untuk berkontribusi dalam pendidikan dia. Ini adalah sekolah yang berpusat pada murid,” imbuhnya.

Sekolah di tahap 4 juga telah memiliki komunitas yang berdaya dalam ekosistem pendidikan.

“Refleksi guru dan perbaikan pembelajaran terus terjadi secara konsisten di dalam kelas, antara kelas, bahkan antara sekolah pun sudah mulai terjadi,” ujar Mendikbud.

“Biasanya di tahap 4 ini dia sudah mempunyai suatu community, suatu komunitas dari sekolah-sekolah lain, dimana mereka berinteraksi. Dan guru serta kepala sekolah melakukan pengimbasan secara berkala yang intensif juga,” sambungnya.

Mendikbud Nadiem Anwar Makarim menegaskan bahwa Sekolah Penggerak berbeda konsep dengan sekolah unggulan atau pun sekolah rujukan.

“Tapi kita akan memulai sekolah-sekolah yang mulainya di tahap 1, mulainya di tahap 2, dan tahap 3. Jadi sekali lagi ini bukan sekolah unggul atau sekolah rujukan. Kita tidak akan melakukan itu, karena yang terpenting buat kita adalah deltanya, perubahan yang terjadi,” terang Mendikbud tentang filosofi Sekolah Penggerak.

“Jadi kita ingin sebenarnya Sekolah-sekolah Penggerak yang mulainya dari tahap lebih rendah, agar untuk bisa melihat perubahan yang substansial,” jelas Mendikbud Nadiem Makarim.

Sumber : https://p3gtk.kemdikbud.go.id/

Facebook Comments

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *