Tugas Modul 2.2.a.9

Oleh : Remigius Ua, S.Pd, CGP Angakatan 1 – Kabupaten Timor Tengah Utara – NTT

Memiliki kecerdasan intelektual tidak cukup menjadikan seseorang akan menjadi sukses, karena disaat kita tidak memiliki sosial-emosional yang baik maka kita tidak dapat melakukan interaksi yang baik pula dengan orang lain. Demikian sebaliknya disaat sosial emosional baik maka kita akan dapat mengatur segala macam emosi (sedih, gembira, haru, tawa, simpati, empati) yang keluar di waktu yang tepat. Maka dengan demikian Kesuksesan tidak hanya di dapatkan dari pendidikan yang tinggi atau nilai akademik yang tinggi. Namun Kesuksesan bisa di dapat dari rasa sosial-emosional yang baik sehingga dengan demikian ia akan bermanfaat bagi orang-orang yang ada disekitarnya.

Dalam mewujudkan kesuksesan dimaksud, membangun emosi anak sangatlah penting dilakukan. Untuk itu sebagai guru penggerak peran ini dapat dilakukan melalui penciptaan well—being pada ekosistem pendidikan di sekolah yang dilakukan secara kolaboratif antara peserta didik dan guru guna mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap/nilai peserta didik. Hal ini berarti pula bahwa guru sebagai pendidik berkewajiban dalam menciptakan kondisi nyaman, sehat dan bahagia bagi anak didiknya.

Menurut Mcgrath & Noble, 2011, murid yang memiliki tingkat well-being yang optimum memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk mencapai prestasi akademik, kesehatan fisik dan mental yang lebih baik, memiliki ketangguhan dalam menghadapi stress dan terlibat dalam perilaku sosial yang lebih bertanggung jawab. Hal ini juga di dukung oleh peneliti Daniel Goleman, “kecerdasan intelektual menyumbang 20% kesuksesan hidup manusia, selebihnya sekitar 80% berasal dari kecerdasan emosi dan sosial”. Ini membuktikan bahwa seorang yang sukses tidak hanya memiliki kecerdasan pengetahuan, akan tetapi kecerdasan sosia-emosionalnya juga harus baik.

Pembelajaran sosial emosional adalah proses pembelajaran yang dimulai dengan pembentukan kesadaran dan kontrol diri serta kemampuan dalam berkomunikasi. Hal ini penting diberikan kepada anak didik agar mereka mampu bertahan dan sekaligus dapat mengatasi setiap permasalahan sosial emosional yang dialaminya. Pembelajaran ini dapat dilakukan dengan cara latihan berkesadaran penuh (mindfulness). Salah satu latihan diri yang dapat digunakan adalah dengan teknik STOP, yaitu: S: Stop (berhenti sejenak), T: Take a deep break (Menarik nafas dalam), O: Observe (Mengamati apa yang terjadi pada tubuh, pikiran dan perasaan). P: Proceed (Lanjutkan)

Pembelajaran Sosial Emosional adalah pembelajaran yang memuat keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan peserta didik untuk dapat bertahan dalam masalah sekaligus memiliki kemampuan memecahkannya. Keterampilan apa saja yang diperlukan ? Ada lima keterampilan sosial emosional dalam pembelajaran sosial emosional, diantaranya adalah:

(1) kesadaran diri- memahami kekuatan dan batasan diri;

(2) pengelolaan diri-memahami emosi diri dengan baik;

(3) kesadaran sosial (empati)-bergerak menuju tujuan seseorang dengan penuh harapan;

(4) keterampilan social (resiliensi)-kapasitas untuk mengambil perspektif orang lain, peduli;

(5) pengambilan keputusan yang bertanggung jawab- kemampuan berkomunikasi, mendengarkan, dan berinteraksi secara efektif. Keterampilan-keterampilan tersebut dapat dilatihkan kepada peserta didik dengan berbasis kesadaran penuh yakni memunculkan situasi kesadaran penuh pada apa yang sedang dikerjakan.

 Sedangkan ruang lingkup pembelajaran sosial emosional yang dapat diterapkan dalam ekosistem pendidikan di sekolah adalah:

1. Kegiatan Rutin (Diluar waktu belajar akademik, misalnya: kegiatan ekskul, perayaan hari besar, kegiatan sekolah, apel pagi, kerja bakti, senam bersama, membaca bersama, pelatihan dsb);

2. Terintegrasi dalam mata pelajaran (Diskusi, penugasan kerja kelompok);

3. Protokol (Menjadi budaya atau aturan sekolah yang sudah menjadi kesepakatan bersama dan diterapkan secara mandiri oleh murid atau sebagai kebijakan sekolah untuk merespon situasi atau kejadian tertentu.

        Dampak dari keberhasilan dalam penerapan KSE (Kompetensi Sosial Emosional) tersebut tidak hanya pada kesuksesan diri seseorang dalam akademik yang lebih baik namun juga memberikan pondasi yang kuat bagi seseorang untuk dapat sukses dalam berbagai area kehidupan mereka di luar akademik (casel.org). Dengan demikian  dapat disimpulkan bahwa pembelajaran sosial emosional dapat dilatih dan ditumbuhkembangkan di luar pembelajaran, terintegrasi dalam pembelajaran dan menjadi budaya atau aturan sekolah sehingga dapat menciptakan well-being dalam ekosistem pendidikan yang sejalan dengan filosofi Kihajar Dewantara. Melalui latihan kesadaran penuh secara konsisten dapat menumbuhkan kesadaran diri, penghargaan terhadap perbedaan dan empati, pemahaman diri dan orang lain, serta kemampuan dalam menghadapi berbagai tantangan dengan karakteristik yang berbeda-beda.

        Keterkaitan antar materi pembelajaran sosial emosional berkaitan dengan modul 1 dan modul 2.1 juga 2.2 yaitu pembelajaran sosial emosional berkaitan dengan modul-modul lain yang telah dipelajari sebelumnya bahwa dalam menjalankan nilai dan perannya sebagai guru penggerak, maka seorang guru penggerak haruslah memiliki kemandirian, reflektif, kolaboratif, inovatif  serta berpihak pada murid. Guru penggerak juga harus menggunakan segala kekuatan dan potensi yang ada untuk membangun budaya positif di sekolah. Budaya positif yang dikembangkan hendaknya dapat mendorong pemenuhan kebutuhan belajar siswa sesuai dengan kodrat yang dimilikinya. Hal ini senada dengan filosofi KHD yakni pendidikan itu harus berjalan sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman).

        Jika pembelajaran sosial emosional dengan pendekatan berkesadaran penuh (mindfulness) menjadi budaya positif di sekolah maka pembelajaran berdifferensiasi akan lebih mudah diterapkan karena peserta didik dapat lebih fokus, semangat, bertanggung jawab terhadap tugas dan pekerjaannya. Hal ini tentunya akan membahagiakan mereka karena pembelajaran yang disajikan  sesuai dengan kebutuhan belajar, minat dan profil mereka.

        Melalui pembelajaran berdifferensiasi dan pembelajaran sosial emosional  juga diharapkan dapat mewujudkan profil pelajar pancasila. Maka dengan demikian terwujudlah insan-insan yang cerdas dan berkarakter yang pada akhirnya berujung dengan melahirkan berbagai kebijaksanaan.

        Pembelajaran sosial emosional diimplementasikan dalam rangka mendidik peserta didik untuk menjadi individu yang penuh hormat serta perhatian dengan sikap yang positif terhadap diri, orang lain, dan komunitas. Melalui pembelajaran sosial emosional peserta didik diberi ruang untuk melakukan refleksi diri serta pengembangan diri berkelanjutan sehingga segala potensi yang dimiliki oleh peserta didik dapat dimaksimalkan untuk keberhasilan hidup mereka. Selain itu, mereka akan terlatih menyikapi permasalahan secara lebih positif dan bertanggung jawab.

Facebook Comments

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *